Sunday, March 7, 2010

Tiga tahun

Hari lalu aku diantar oleh seorang satpam ke rumah teman. Satpam itu, aku lupa namanya, berasal dari Maluku Tenggara. Begitu naik ke motor, dia bertanya apakah aku sekolah di Stella Marris. (Ya Tuhan, emangnya aku tampak begitu kecil?)
Aku bilang aku kuliah. Dia tanya, di UMN? Ya. Berapa setahunnya? Tujuh.
Dia dengan nada biasa bercerita, kalau saya tak akan mampu bayar segitu. Kuliah yang murah saja saya tak mampu. (Memangnya aku mampu? batin saya)
Dia tanya, umur berapa? Tahun ini dua puluh. Loh, nggak beda jauh donk kita, cuma beda tiga tahun. Bapak kelahiran 87? Iya. (Saya membatin, astaga cuma tiga tahun bedanya)
Kemudian ia bertanya lagi, Kristen? Katolik, Pak. Oh, sama donk kita.
Dia cerita, dan terus cerita, betapa susah menemukan orang Katolik di sini sebab mayoritas Kristen. Dia cerita, semua keluarganya di Maluku sana menjadi koster atau suster. Dia sendiri yang jadi satpam.
Aku pun cerita, pernah punya teman dari Flores yang katanya di daerah sana itu kalau ada anggota keluarga yang jadi anggota Gereja (koster, suster, bruder, apalagi pastur) dapat mengangkat derajat seluruh keluarganya. Dia bilang, betul itu. (Dengan logat ambonnya yan khas sekali, hampir tertawa aku mendengarnya.) Kemudian aku bilang ada juga dosen UMN yang dari Ambon, dia tanya, apa marganya? Aku bilang Arkyuwen. Lalu aku bilang tadinya aku tidak tahu nama macam apa Arkyuwen itu, dia dengan bangga memberitahuku kalau cuma kami orang Maluku Tenggara yang tahu marga-marga itu.

Lalu dia tanya, ke Gereja mana? Kalau di sini jarang, karena Gerejanya jauh. Wah, janganlah jarak menjadi penghalang ke Gereja. Saya dari Ciunyi ke Gereja di Sukabumi. (Sejujurnya saya tak tahu sejauh apa itu, tapi saya malu. Maka tadi saya ke Gereja.)
Puasa dan pantang? Iya, sedang diusahakan. Bagus, seperti saya. Saya belum makan dari pagi, biasa makan tengah malam, sehabis jalan salib di rumah. Bapak jalan salib? Iya, setiap malam. Terus gimana caranya? Ya berdoa saja, yang penting menghayati. Kan ada 14 perhentian, Bapak keliling-keliling rumah? Tentu nggak, di situ saja doanya.


Saya lalu berefleksi. Tiga tahun nggak terlalu jauh beda usianya dengan saya. Saya mengenal sesorang yang selisihnya juga tiga tahun dengan saya. Saya berpikir,
Yang satu hanya suka berfoya, bermanja-manja. Yang lain bekerja keras, berpanas ria sampai hitam legam kulitnya. Yang satu belum bisa apa-apa, yang lain bisa mencari makan kemana-mana. Yang satu jauh dari matang, yang lain sudah siap dan mantap.

Maaf kalau tersinggung, yang aku tulis hanya sebuah fakta.

No comments: